Demikian kenyinyiran Indreswary ketika menyaksikan kakaknya, Indreswaru, membeli empat pasang lensa kontak warna-warni di sebuah optik. Aku mengganti kacamata. Dua kacamataku lainnya dan kacamata Indreswary dibersihkan dalam mesin sterilisasi.
Mulai dari optik, sepanjang jalan menuju hotel tempat kami menginap hingga tiba kembali ke rumah, Ia terus-menerus berkata agak sengit dan nampak tak ikhlas. " Mengapa sih Bunda itu terlalu baik sama Mbak ? Dia itu gaya-gayaan saja. Sok imut banget. Tadi di kamar tuh, dicobanya semua tuh trus gaya-gayaan foto dirinya sendiri...sok Korea banget...!"
Ayahnya yang di sebelah kami, mencolekku. Rivalitas dua bersaudara itu terasa mengherankan bagi Ayahnya karena jarak umur mereka kurang lebih tujuh tahun. Bagaimana bisa anak kelas 4 SD mencemburui anak kelas 2 SMU, demikian pun sebaliknya ?
Logika keadilan Indeswary adalah 1 untuk Mbak Indreswaru berarti 1 untuknya. Ia menghitung-hitung benda-benda yang kubelikan untuk Indreswaru dan membandingkannya dengan propertinya sendiri. Ketika menemukan bahwa punya Mbak Indreswaru lebih banyak, dia akan nyinyir sepanjang hari. Padahal kadang-kadang nilai barang Indreswaru jika diakumulasikan, lebih kecil ketimbang punya Indreswary.
" Dek, adil itu sesuai kebutuhan. Kebutuhan anak SMU dengan kebutuhan anak SD kan berbeda, jadi Adek itu jangan suka iri sama Mbak..." Suatu ketika aku berkata ketika kami berada di mobil. Entah masuk di akalnya atau tidak. " Keadilan itu sesuai kebutuhan"
Ia kubelikan bantal lebar yang segera diungsikannya ke kamar orangtua (tempat dia merasa sebagai penghuni spesial dan tetap) dengan alasan tak mau ada pulau-pulau hasil iler Mbak Indreswaru saat tidur. Ia merasa pernah dituduh semena-mena oleh Indreswaru sebagai penyebab bau iler pada bantal di kamar Indreswaru.
Tapi setelah ledakan kecemburuan, biasanya mereka akan kembali rukun, bermain bersama lalu ribut, rukun lagi, ribut lalu rujuk lagi :)
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar